|
|
 |
 |
 |
| |
koran-radar.com HOT berita |
|
 |
 |
 |
| |
|
|
| |
|
|
| |
Sabtu, 14/02/2009 [17:34:25] |
|
| |
Pengobatan Gratis |
|
| |
Palembang : Menuju Sehat Bermodal KTP |
|
| |
[Jakarta] |
|
| |
|
|
| |
Jakarta, KR Online
Demam, flu, dan pusing-pusing sudah menjadi langganan Aminah. Hampir setiap bulan, wanita 45 tahun itu terserang flu ataupun demam. Ia juga sering pusing lantaran kurang darah. Maklum, Aminah cuma buruh cuci berpenghasilan Rp 25.000 sehari. Praktis, energinya diperas buat bekerja, tapi asupan gizinya terabaikan.Akibatnya, ya itu tadi, Aminah gampang pusing atau malah ambruk diinfeksi penyakit. Yang menyedihkan, warga Talang Ratu, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), itu jarang berobat ke puskesmas. Aminah memilih beristirahat atau membeli obat di warung. Alasannya, "Berobat ke puskesmas biayanya Rp 10.000-Rp 15.000. Berat juga," ujar ibu dua anak itu.
Itu dulu. Kini, sejak program berobat gratis di Sumsel diluncurkan pada 22 Januari dan diresmikan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari pada 27 Januari lalu, Aminah tak segan lagi berobat ke puskesmas. "Sekarang tak susah lagi berobat karena tak perlu memikirkan biayanya," kata Aminah, sumringah.
Rasa gembira juga dilontarkan Wiran, buruh bangunan. "Sekarang berobat cukup bawa KTP, tidak perlu duit," katanya, lega. Di usianya yang ke-50 tahun, lelaki itu sering dihinggapi penyakit, terutama darah tinggi, batuk, dan demam. Selama ini, Wiran sering meminjam duit tetangga bila ingin berobat ke puskesmas. Malah tak jarang ia terpaksa menunda berobat karena tak mendapat utangan.
Kegembiraan Aminah dan Wiran mungkin cerminan masyarakat Sumsel umumnya. Pasalnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel melakukan terobosan di bidang pelayanan kesehatan dengan mencanangkan program "Jaminan Sosial Kesehatan (Jamsoskes) Sumsel Semesta". Program ini melayani pengobatan gratis bagi warga Sumsel.
Persyaratannya tak ribet seperti pada program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) yang ditangani pemerintah, yang antara lain mensyaratkan surat keterangan miskin. "Peserta Jamsoskes Sumsel cukup menunjukkan KTP atau kartu keluarga. Pasti dilayani, bahkan sampai dirujuk ke rumah sakit di Jakarta. Gratis," kata Gubernur Sumsel, Alex Noerdin.
Prosedurnya, mula-mula warga berobat ke puskesmas. Bila sakitnya cukup serius, baru dirujuk ke rumah sakit di kabupaten/kota. Warga yang mengalami gawat darurat dibolehkan langsung ke rumah sakit. Di rumah sakit diputuskan apakah pasien menjalani rawat inap atau rawat jalan, tergantung diagnosis.
Kalau penyakitnya tak tertangani, dirujuklah ke rumah sakit di Jakarta, seperti Rumah Sakit (RS) Cipto Mangunkusumo, RS Jantung Harapan Kita, RS Kanker Dharmais, RS Cikini, dan RS Cengkareng. Pelayanannya standar kelas III.
"Semua biaya ditanggung pemprov, mulai rawat inap, obat-obatan, biaya dokter, tindakan operasi, persalinan, sampai cuci darah," kata Kepala Dinas Kesehatan Sumsel, Zoelkarnain Noerdin, kepada Gatra. Untuk menyukseskan program ini, Pemprov Sumsel mengalokasikan dana Rp 240 milyar, plus Rp 141 milyar dana sharing dari 15 kabupaten/kota.
Program ini ditujukan bagi sekitar 4 juta (dari 7 juta) warga Sumsel yang belum ter-cover asuransi kesehatan. Belum ada peraturan daerahnya, memang. Toh, tak menjadi halangan. "Program ini disetujui dewan karena dianggap berpihak kepada rakyat. Persyaratannya juga mudah," kata Ketua DPRD Sumsel, Zamzami Ahmad.
Lantaran persyaratan berobatnya mudah, warga Sumsel berbondong-bondong ke puskesmas. Jumlah pasien puskesmas rata-rata meningkat sampai 30%. Begitu pula peningkatan jumlah pasien di rumah sakit rujukan, seperti di RS Islam Siti Khadijah, Palembang, yang normalnya memiliki 95 tempat tidur kelas III. "Kami terpaksa menambah 30 bed pasien kelas III di koridor," kata Rosmala Dewi, Kepala Seksi Pelayanan dan Kelengkapan RS Siti Khadijah.
Toh, Alex optimistis, program pengobatan gratis itu akan sukses. "Pada saat ini kan masih baru, jadi terasa hebohnya. Lama-lama juga akan berjalan seperti biasa lagi," kata Alex, yang dinilai berhasil menerapkan program berobat gratis di Musi Banyuasin semasa menjabat sebagai bupati di sana.
Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menyambut gembira terselenggaranya program berobat gratis itu. Ia berharap, langkah Pemprov Sumsel dapat diikuti provinsi lainnya. "Dengan demikian, beban pemerintah untuk menanggung pengobatan masyarakat miskin bisa berkurang," kata Siti Fadilah ketika meresmikan peluncuran program berobat gratis yang dipusatkan di bawah Jembatan Ampera itu. (Tmn/Gatra)
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
Anda ingin memasang banner? hubungi kami di : 021 - 8306 765 |
|
 |
 |
 |
| |
|
|
| |
|
|
|